Senin, 23 Juli 2012

Iblis Ingin Bertobat Bertemu Nabi Musa

Iblis ingin bertobat bertemu Nabi Musa Siang itu begitu terik. Panas membakar kulit. Tidak ada manusia yang keluar dari rumah kalau tidak untuk satu keperluan yang sangat penting atau mendesak. Mereka lebih memilih berdiam diri di dalam rumah, warung atau di tenda-tenda. Para penggembala di padang rumput mencari perlindungan di bawah pohon atau di balik batu sambil mengawasi ternak gembalaan. Angin juga bertiup kencang sekali, menerbangkan debu dan daun-daun kering. Kadang membentuk kepulan, berputar-putar naik ke udara, kemudian lenyap. Orang yang berada di tengah cuaca yang seperti itu akan merasakan kulitnya bagai melepuh terbakar dan perih laksana ditusuk ribuan jarum.



Tapi, nun di sana…. Tampak sesosok tubuh menyerupai seorang laki-laki berjalan tergesa di tengah terik dan deraan angin. Rambutnya yang jabrik kaku ke atas, tidak bergerak walaupun angin keras menerpa. Begitu juga jenggotnya dan kumisnya yang menjuntai. Hanya jubahnya yang bergerai-gerai ditiup angin. Dia seperti tidak merasakan cuaca yang ganas dan tidak bersahabat itu. Dan aneh, tidak ada jejak kaki yang ditinggalkan di pasir yang dilaluinya.

Sosok itu semakin dekat ke perkampungan…. Wajah sosok itu kelihatan sangat tegang dan dingin. Matanya yang besar merah kehitaman, menatap lurus ke depan. Sosok itu terus berjalan tanpa menoleh kiri kanan, tanpa mempedulikan kerasnya deraan angin dan panasnya sengatan matahari. Siapakah makhluk asing dan tekad itu? Heei… rupanya dia Iblis La'natullah! Mau apa dia sehingga mengubah diri menyerupai manusia? Yak! Kita ikuti saja perjalanannya.

Iblis mempercepat langkah kakinya. Wajahnya semakin tegang. Dia melalui rumah demi rumah di perkampungan itu tanpa ada seorangpun yang melihatnya. Hanya beberapa orang merasakan bau yang tidak lazim, menusuk hidung dan menyumbat jalan pernapasan ketika Iblis lewat di hadapan mereka.

Di depan sebuah rumah, Iblis berhenti. Dia diam sejenak, menghela napas. Lalu dia mengangkat tangannya yang berkuku panjang dan runcing. Dia mengetuk pintu rumah di hadapannya beberapa kali dan menunggu. Sesaat berselang pintu terbuka. Seorang laki-laki paruh baya dan berwajah bersih bersinar menyembul. Allahu Akbar…. Itu kan wajah Nabi Allah, Musa As.! Rupanya makhluk yang paling dibenci Allah bertemu dengan makhluk yang sangat dicintai Allah Azza wa Jalla. Nabi Musa As. Memandang Iblis dengan heran.

"Salam bagimu, wahai Nabi Allah…", Iblis mengucap salam.

"Ya, salam bagiku dan tidak bagimu…", jawab Musa As.

Iblis tersenyum menyeringai sehingga kumis masainya bergerak-gerak. Wajahnya berkerut dan tampaklah sekarang, betapa kulit makhluk terkutuk itu sangat menjijikan, seperti kulit kodok dan bersisik. Musa As. Berdiri tenang di hadapannya dan menatap Iblis dengan tajam.

"Mau apa engkau ke sini?", tanya Musa As.

"Apakah Nabi Allah biasa menerima tamu di depan pintu?", tanya Iblis menyindiri.

Musa As. akhirnya mempersilahkan Iblis masuk. Iblis duduk di hadan Nabi Musa As. Seandainya Musa As. bukan seorang Nabi dan Rasul Allah, mungkin beliau sudah pingsan karena bau yang keluar dari tubuh Iblis sangat luar biasa. Tapi berkat kekuatan ruhiyah Musa As., bau menyengat itu seolah tersedot oleh kesalehan sang Rasul sehingga tidak menjalar ke mana-mana.

"Sekarang katakan, wahai La'natullah, ada keperluan apa engkau menjumpaiku? Apakah engkau akan menggodaku sebagaimana dulu engkau menggoda Kakekku, Adam As. Sehingga beliau terjerumus?".

Iblis tidak langsung menjawab. Dia menatap Musa As. dengan matanya yang merah kehitaman. Titik putih di tengah matanya seperti bergeser ke atas ke bawah. Musa As. menunggu.

"Wahai Musa, aku datang ke sini membawa kebaikan…".

"Kebaikan apa yang kau bawa?", tanya Musa As., "Bukankah engkau, hai Iblis, sumber segala kerusakan dan keburukan?".

"Wahai Nabi Allah…, aku ingin bertobat….", jawab Iblis.

Musa As. terkejut. Dia memandang Iblis dengan seksama, seperti tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Hampir saja dia tertawa kalau tidak mengingat bahwa tobat itu adalah hak semua makhluk, termasuk Iblis yang dilaknat Allah. Iblis kelihatan maklum kalau Musa As. tidak mempercayainya. Ya…. Tentu saja. Ribuan tahun Iblis menjadi musuh manusia. Permusuhan itu diumumkan sendiri oleh Allah kepada manusia! Dan sekarang, tiba-tiba Iblis muncul di hadapan Musa As. ingin bertobat?

"Apa aku tidak salah dengar?", tanya Musa As.

"Tidak", jawab Iblis singkat.

Nabi Musa As. berpikir keras. Apakah kalau Iblis bertobat benar-benar akan membawa kebaikan? Kebaikan apa dan untuk siapa? Sekali lagi beliau menatap Iblis. Iblis menunggu dengan tenang.

"Apa yang mendorongmu ingin bertobat?", tanya Musa As.

"Apakah setiap hamba yang ingin bertobat harus kau ketahui alasannya?", jawab Iblis dengan balik bertanya.

Meskipun kesal, tapi Musa As. merasa, apa yang dikatakan Iblis memang benar. Setiap hamba yang ingin bertobat, tidak perlu memberikan penjelasan kepada seseorang, mengapa dia bertobat. Tapi Musa As. sangat penasaran dan ingin tahu apa gerangan yang membuat Iblis ingin bertaobat. Lalu bagaimana kelanjutan "permusuhannya" dengan manusia.

"Kalau begitu, mengapa kau menemuiku, bukankah kau bisa langsung bertobat kepada Allah?", tanya Musa As. lagi.


"Ya Musa, aku takut…. Aku takut Allah tidak mau menerima tobatku", jawab Iblis.

Nabi Musa As. menghela napas. Beliau berusaha mengerti, apa sebenarnya yang ada di hati Iblis saat itu.

"Mengapa harus takut, bukankah kau tahu kalau Allah itu Maha Pengampun dan Penerima Tobat? ".

"Aku tahu….", jawab Iblis.

"Lalu…, apa lagi yang kau tunggu?! Segeralah wujudkan keinginanmu!".


"Aku butuh pertolonganmu untuk mewujudkan keinginanku bertobat", kata Iblis.

"Pertolonganku?".

"Ya", jawab Iblis cepat.

"Lekas katakan, apa yang harus aku lakukan untukmu!".

"Wahai Musa…, tolong tanyakan kepada Allah, apa syaratnya kalau aku ingin bertobat?", kata Iblis.


"Mengapa tidak kau tanyakan sendiri? Bukankah engkau pernah berhadapan dengan Allah?", tanya Musa As.

Iblis diam sejenak. Dia menunduk. Kuku tangan kirinya yang runcing dan hitam menggaruk-garuk wajahnya. Nabi Musa As. menunggu dengan sabar. Kemudian Iblis mengangkat kepalanya, menatap Musa As.

"Ya Musa… aku malu kepada Allah…", jawab Iblis lirih.

"Tidak kusangka, makhluk terkutuk ini ternyata masih punya rasa malu", kata Musa As. dalam hati.

"Bagaimana, apakah kau mau menolongku?".

"Baik, aku bersedia menolongmu", jawab Musa As.

"Kalau begitu, aku permisi. Aku akan menemuimu kembali beberapa hari lagi", kata Iblis sambil berdiri.

Nabi Musa As. berdiri. Lalu tanpa berkata apa-apa, juga tanpa mengucapkan "terima kasih", Iblis keluar dan meninggalkan Musa As. Ketika Musa As. keluar rumah, beliau tidak mendapati Iblis. Makhluk terkutuk itu sudah hilang dari hadapannya.

Setelah Iblis pergi, Nabi Allah, Musa As., duduk kembali di tempatnya. Beliau benar-benar tidak habis pikir, kenapa Iblis tiba-tiba berubah sikap dan apa yang mendorongnya ingin bertobat. Nabi Musa As. berbaik sangka saja. Siapa tahu, Iblis benar-benar ingin bertobat.

Beberapa hari kemudian….

Malam itu Nabi Musa As. sedang berkhalwat di mihrabnya. Tiba-tiba beliau merasakan angin semilir berhembus di belakang punggungnya. Seiring dengan itu, tercium bau busuk yang menyesakkan dada. Musa As. tahu, pastilah Iblis datang lagi menemuinya. Dan memang benar, Iblis muncul di hadapannya tanpa permisi.

"Mengapa hamba yang mau bertobat tidak mengucap salam?", tanya Musa As.

"Ya Musa, tanpa salamku, engkau sudah diselamatkan Allah. Bukankah Allah telah menyelamatkan engkau dari tipu daya para penyihir Fir'aun? Bukankah Allah juga telah membelah laut untuk menyelamatkan engkau dan umatmu?"

Musa As. tidak menjawab. Iblis duduk di hadapan Musa As. Sesaat mereka saling menatap. Kemudian Iblis menunduk.

"Wahai Musa, apakah engkau sudah bertanya kepada Allah, apa syaratnya kalau aku ingin bertobat?".

"Ya, sudah…", jawab Musa As.

Wajah seram Iblis sumringah. Dia dekatkan wajahnya ke wajah Musa As.

"Lalu, apa syaratnya?", tanya Iblis penasaran.

"Syaratnya ringan sekali…", jawab Musa As.

"Apa?", tanya Iblis ingin segera tahu.

"Tapi juga bisa jadi berat buatmu…", jawab Musa As.

Iblis kelihatan kesal, lantaran Nabi Musa As. tidak segera menjawab pertanyaannya. Dan Musa As. bukan tidak tahu kalau Iblis kesal. Beliau hanya ingin melihat kesungguhan Iblis yang ingin bertobat.

"Ya Musa, betapapun beratnya syarat yang diminta Allah, aku pasti akan melaksanakannya! Barangkali itu memang sebanding dengan kedurhakaanku", kata Iblis mantap.

"Ya, kurasa memang begitu. Mudah-mudahan tekadmu bertobat benar-benar bulat.", kata Musa As.

"Tapi apa syarat tobatku, cepat katakan!", Iblis tidak sabar.

"Dengar wahai Iblis La'natullah! Demi Keagungan SifatNya, Allah akan menerima tobatmu dengan syarat kau harus mencari makam Kakek Moyangku, Adam As.", kata Musa As.

"Untuk apa?", tanya Iblis heran.

"Allah menyuruhmu sujud di makam Kakekku itu", jawab Musa As. dengan suara mantap.

Mendengar keterangan Musa As. seperti itu, wajah Iblis tiba-tiba berubah menjadi sangat menyeramkan. Dia menatap Musa As., yang duduk tenang di hadapannya, dengan tajam. Rambutnya yang jabrik semakin tegak. Suara dengus keluar dari lubang hidungnya yang besar dan seketika udara panas melingkupi Nabi Musa As. Napas Iblis memburu, pertanda kemarahan menggelegak di dadanya.

"Wahai Musa! Asal kau tahu saja, dulu sewaktu Kakek Moyangmu itu masih hidup, aku tidak sudi sujud kepadanya, apalagi sekarang setelah dia mati!".

Suara Iblis menggelegar di telinga Musa As., walaupun tidak ada seorangpun yang mendengar suara itu. Iblis berdiri dan memandang Musa As. dengan marah.

"Lebih baik aku tidak jadi bertobat daripada harus sujud di makam Kakekmu! Biarlah neraka menjadi tempat abadiku", kata Iblis sengit.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Iblis la'natullah menghilang dari hadapan Nabi Musa As.

***

Takabur…. Itu barangkali kata yang paling tepat untuk melukiskan sifat dan prilaku Iblis. Di dalam kata "takabur", tersirat makna sombong, ujub atau bangga diri dan jumawa. Padahal semua prilaku itu sama sekali tidak cocok untuk menjadi atribut makhluk. Hanya Sang Khalik yang pantas menyandang semua atribut itu. Ya, karena Allah Azza wa Jalla adalah Al-Mutakabbir.

Iblis menolak ketika diperintah oleh Allah untuk sujud kepada Kakek Moyang manusia, Adam As. karena secara historis dia merasa lebih mulia daripada Adam As. Trah-nya ningrat. Dia bangsawan lantaran diciptakan dari kecerlangan dan gelegak api yang membakar. Sedang Adam As., moyang manusia itu, "hanya" dicipta dari bahan dasar yang sangat hina dan busuk, yakni tanah. Sesuai dengan takdirnya, tanah untuk diinjak-injak, kawula yang melayani, bukan untuk disembahsujud. Tapi api… api adalah lambang kekuatan, tenaga hidup dan kejayaan!

Iblis merasa, Allah Azza wa Jalla "salah" memberikan perintah. Masak sih "Yang Dipertuan" harus menghatur sembahsujud pada kawula si jelata? Bagaiman ceritanya?

Iblis sombong karena dia merasa kedudukan atau status sosialnya lebih tinggi daripada Adam As. Dia mempunyai "syarat-syarat" yang layak disombongkan, yakni bahan dasar dia diciptakan dari api yang menyala. Iblis bangga diri karena dia lebih senior dari Adam As. Dia lebih dulu menyembah Allah, oleh karena itu dia lebih patut disembah ketimbang hamba yang baru "kemarin sore" diciptakan. Iblis jumawa karena diukur dari sudut apapun dia merasa lebih mulia daripada Adam As.

"Jadi, kenapa aku yang harus sujud kepada Adam?!".

Begitu mungkin kata hati Iblis. Tapi dia lupa…. Yang menyuruhnya sujud kepada makhluk adalah Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Maha Kuasa, Pemilik langit dan bumi. Dia bukan diperintah oleh makhluk, yang sama-sama ciptaan, tapi oleh Sang Pencipta, Pencipta Alam Semesta.

Jelaslah sudah, Iblis tidak mau sujud kepada Adam As. bukan lantaran dia hanya mau sujud kepada Allah, tapi karena dia merasa iri. Pembangkangan atau penolakannya tidak didasari oleh aqidahnya yang tinggi, tapi karena adanya kedengkian kepada Adam As. Karena…

"Aku lebih baik daripada dia (Adam As.)", katanya.

Beda sekali dengan Sahabat mulia Rasulullah Saw., Bilal bin Rabah ra. yang menolak menyebut nama-nama berhala kaum kafir Quraisy, meskipun nyawanya terancam, dan hanya menyebut "Ahad… Ahad… Ahad…". Siapakah yang menyuruh Bilal ra.? Tidak lain adalah orang-orang kafir Quraisy yang memang tidak perlu ditaati! Bilal ra. menolak perintah kaum kafir dan tindakannya dibenarkan oleh Allah melalui RasulNya. Penolakan Bilal ra. dihadiahi surga. Sedang Iblis menolak perintah Allah, dan dia diusir dari surga, bahkan tempat kembalinya nanti telah pasti di neraka jahannam!

Konon Iblis adalah salah satu makhluk Allah dari bangsa Jin, yang telah mengabdi kepada Allah selama ribuan tahun. Tapi semua pengabdiannya menjadi sia-sia karena dia gagal ketika Allah menguji keimanannya dengan perintah sujud kepada Adam As. Padahal semua malaikat, yang sama-sama telah mengabdi ribuan tahun, sujud kepada Kakek Moyang manusia itu. Dan sujud kepada Adam As., sesungguhnya bukanlah bentuk penyembahan, tapi sekedar penghormatan kepada Adam As. yang di-casting oleh Allah menjadi Khalifah di muka bumi.

Perintah Allah Azza wa Jalla agar para Malaikat (dan bangsa Jin) sujud kepada Adam As. disimpulkan oleh Iblis sebagai penghinaan terhadap ketinggian martabatnya. Dan itu sudah cukup membuatnya marah sampai ke ubun-ubun. Rasa irinya berubah menjadi dengki.

Dengki adalah perasaan sakit hati yang tidak mempunyai dasar dan absurd. Kalau iri, masih dibolehkan agama dalam beberapa hal, karena tidak akan merugikan orang dijadikan sasaran iri. Si A iri pada si B karena si B sangat rajin beribadah dan kualitas ibadahnya juga baik. Maka si A berusaha keras agar kualitas ibadahnya lebih baik dari si B. Dan ketika akhirnya si A berhasil menyamai prestasi ibadah si B, dia tidak menjadi sombong atau tinggi hati. Orang yang iri, belum tentu mempunyai keinginan untuk melukai orang yang menjadi penyebab irinya itu.

Berbeda dengan dengki, hasad. Dengki timbul karena kemarahan, di samping karena iri. Dengki lebih bersifat destruktif. Orang yang dengki baru merasa puas kalau orang yang membuatnya dengki celaka atau miliknya hilang. Wajar kalau kita diminta berlindung diri kepada Allah dari kejahatan orang-orang yang dengki, bukan orang-orang yang iri.

Itulah sebabnya Iblis yang sakit hati memohon kepada Allah agar diberi usia panjang sampai akhir kehidupan di alam dunia. Dan Allah memberi tempo kepadanya. Iblis juga mendeklarasikan dendam dan permusuhannya yang sengit kepada Adam As. dan anak keturunannya. Dia bertekad akan menjerumuskan anak cucu Adam As.

Kita sama-sama berlindung kepada Allah dari kejahatan, bisikan, bujuk rayu, godaan dan tipu daya Iblis dalam bentuk setan yang terkutuk.

* Sumber lain mengatakan Iblis bertemu dengan Nabi Nuh as.

Wallahu 'alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 cinta abadi. All Rights Reserved. mmmusics.com - Lirik Lagu - Terjemahan Lagu - mmmusics.com - Terjemahan Lirik Lagu