Menurutnya, sejatinya isu agama dan etnis tidak akan mempengaruhi dukungan kepada pasangan calon gubernur Joko Widodo-Ahok, namun karena berbagai informasi dengan deras menyingkapkan bahwa komunitas Tionghoa mengerucutkan dukungan pada Ahok, akhirnya isu pembelahan sosial itu tidak terhindarkan dan menyandera Ahok pula. Ini jelas kerugian di pihak kubu Jokowi-Ahok pada putaran kedua pemilukada DKI nanti.
Karena itu, gencarnya kubu Fauzi-Nachrowi yang memastikan diri bahwa mereka tidak menggunakan kampanye hitam dengan menghembuskan isu SARA, menjadi relevan dan signifikan secara sosio-politik dalam menghadapi kubu Jokowi.
"Sejak awal kampanye putaran satu Timses Fauzi-Nachrowi tidak pernah menggunakan kampanye hitam yang berbau SARA," tegas Ketua Komunitas Intelektual Muda Betawi (KIMB) Ramdan Alamsyah di Jakarta, Kamis (19/7/2012). Kubu incumbent ini malah meyakini, justru sejak awal kampanye putaran pertama, Fauzi-Nachrowi sudah menjadi korban kampanye hitam.
Salah satu isu SARA yang dihantamkan ke kubu Fauzi-Nachrowi adalah mengidentikan Fauzi dengan Nazaruddin dengan kalimat 'satu guru satu ilmu' disebarkan melalui poster dan uang mainan.
Namun kini dengan kemungkinan langkah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk mengalihkan suaranya kepada Fauzi Bowo maka kubu ini meraih amunisi baru. Sementara Partai Amanat Nasional (PAN) sampai saat ini masih dalam barisan partai pendukung Fauzi-Nara.
Yang harus dicermati kubu Fauzi-Nachrowi adalah kekalahan pada hasil penghitungan cepat beberapa lembaga survei dikarenakan ada arus kader yang terpecah. Sehingga mesin partai kurang optimal untuk mendulang suara untuk Fauzi.
Kini hanya dua pasangan yang bertanding yakni kubu Fauzi vs kubu Jokowi. Semuanya ditentukan kelincahan dan kemampuan kubu Foke dan Jokowi, siapa yang mampu memikat suara rakyat DKI?
Meski dukungan arus PKS-PAN bagi Fauzi menjadi cukup berarti, namun tetap diperlukan kesigapan dan kelincahan Fauzi-Nachrowi dalam mengimbangi Jokowi-Ahok dalam berkomunikasi dan bersambung rasa dengan rakyatnya.
Tidak terlalu berlebihan kalau para analis menilai, pasangan calon Gubernur Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli akan mampu membalikkan keadaan dan mengalahkan pasangan Jokowi-Ahok, di Pemilukada DKI Jakarta putaran kedua. Tapi butuh kerja keras dan cerdas untuk mencapainya.
Kubu petahana (Fauzi) harus mampu mensosialisasikan dan mendiseminasikan apa yang sudah dibangun dan dicapai selama lima tahun ini, dan apa yang mau dikerjakan dan ditargetkan kelak secara kesinambungan.
Sementara hampir pasti kubu Jokowi akan menyuarakan 'perubahan atau pembaruan', bukan keberlanjutan, untuk memikat rakyat. Jika tidak jelas apa yang dimaksud dengan 'perubahan dan pembaruan' itu sendiri, kubu Jokowi bisa menuai blunder dan merugi.
Dengan tiadanya isu SARA dari kubu Fauzi mupun Jokowi, meski Ahok tersandera isu ini, boleh jadi pertarungan gagasan, ideologi dan visi-misi bakal menjadikan Pemilukada DKI ini ke arah yang konstruktif. Pilihan rasional bisa jadi kian mengemuka di kalangan warga DKI dalam menentukan kepemimpinan Jakarta mendatang. Selamat Berjuang! [mdr] inilahCom
Tidak ada komentar:
Posting Komentar