Nyatanya, semua hasil hitung cepat (quick count) yang dirilis Rabu, 11 Juli 2012, menunjukkan angka berbeda. Justru pasangan Jokowi-Ahok, yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), yang unggul sementara. Menurut hitung cepat Indo Barometer, misalnya, Jokowi-Basuki meraih 42,24 persen suara, jauh di atas Fauzi-Nachrowi yang hanya meraup 33,77 persen suara.
Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia, Andrinof A. Chaniago, yang juga menjadi konsultan politik untuk Jokowi, menilai kemenangan jagonya itu ditentukan pada sepekan terakhir menjelang hari pencoblosan. "Saya kira kampanye kubu Foke pada H-7 terlalu ofensif dan banyak melakukan serangan agresif, sehingga terkesan tidak etis dan kontraproduktif," katanya. Model kampanye macam itu, kata Andrinof, akhirnya menjadi senjata makan tuan.
Ini rahasia kemenangan Jokowi pada saat yang sama, Jokowi berhasil mencitrakan diri sebagai alternatif terbaik untuk menggantikan incumbent. "Sosok Jokowi dinilai lebih menjanjikan untuk membawa perubahan di Ibu Kota," kata sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo. Warga Jakarta terutama mengenal Jokowi berkat prestasinya yang menonjol sebagai Wali Kota Solo. "Jokowi dikenal dengan mobil Esemka, pembelaannya terhadap pedagang kaki lima dan melindungi pasar tradisional, bahkan pernah berantem dengan Gubernur Jawa Tengah karena menentang pembangunan mal," kata Imam lagi.
Penilaian itu dibenarkan oleh peneliti Lembaga Survei Indonesia, Burhanudin Muhtadi. Semua citra baik itu, kata dia, disokong pula oleh pemberitaan positif di media massa dan media sosial. "Jokowi itu memang media darling (kesayangan media)," katanya.
Selain itu, faktor penting lain yang tak kalah menentukan adalah kinerja mesin partai. Peneliti LSI lainnya, Saiful Mujani, melihat dukungan Partai Demokrat dalam kampanye Fauzi kurang maksimal. "Sementara mesin PDIP dan Gerindra solid di belakang Jokowi."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar