Meski sudah menjadi bagian dari the 76ers, Erick masih belum bisa membeberkan rencana-rencana ke depannya. Lockout dalam tubuh NBA yang masih belum selesai menjadi alasan utamanya. "Setelah lockout, saya akan berusaha untuk bercerita lagi," ujarnya. Yang jelas, Erick menekankan dengan adanya kepemilikan saham di salah satu tim besar NBA itu, peluang para pemain Asia, terutama Indonesia, merambah Amerika Serikat semakin terbuka lebar.
Meski demikian, Erick tidak menjanjikan para pemain Indonesia langsung dengan mudahnya masuk dalam persaingan di NBA. "Peluang ke NBA masih berat, karena ada klasifikasi tersendiri yang harus dipenuhi," katanya. Erick menyatakan peluang itu akan datang dari liga mahasiswa NCAA. "Kita bisa dorong agar ada pemain Indonesia yang masuk dalam NCAA Divisi Satu," katanya.
Erick pun sudah berencana untuk bisa menggiring pemain muda, Vincent Rivaldi Kosasih, untuk merambah dunia basket Amerika Serikat. Pemain muda dari klub Satria Muda Britama itu akan memulainya dengan menjalani masa SMA di Amerika Serikat. "Sekarang ini untuk bisa membuat pemain yang baik harus dimulai dari tingkat SMA. Begitu alasannya untuk Vincent Kosasih," katanya.
Sementara terkait tawaran kepemilikan the 76ers sendiri, Erick mengaku tidak pernah membayangkan bisa datang saat ini. Tawaran itu datang saat Erick berkunjung ke Los Angeles, Amerika Serikat, untuk menyaksikan NBA All Star 2011. "Saya mendapatkan tawaran untuk bertemu dengan Jason Levien," katanya. Levien juga kini menjadi salah satu pemilik saham the 76ers.
Tawaran itu kemudian dimatangkan melalui beberapa pertemuan yang diawali dengan pertemuan dengan sang pemimpin grup, Joshua Harris . Akhirnya, grup pemilik saham the 76ers diperkenalkan kepada publik pada 18 Oktober lalu dalam sebuah konferensi pers di Palestra, Philadelphia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar